Selasa, 05 Januari 2021

Buku Dan Takdirnya

Buku Dan Takdirnya

Jikalau ada ungkapan, tugas penulis hanya menulis saja itu tidak salah. Apalagi yang masih dalam tahapan belajar. Menulis apapun genrenya. Pada saat mendapat ide, segera tuangkan. Entah dalam bentuk puisi, kolom, cerpen tiga paragraf atau apapun. Saatnya nanti bila sudah mencukupi bisa dijadikan buku.

Dalam benak mungkin berpikir, terus ķalau sudah jadi buku mau diapakan buku kita. Apalagi yang berorentasi ke profit. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu dalam. Pasti banyak manfaatnya. Setidaknya untuk pribadi, syukur-syukur bisa dibaca, dinikmati dan diambil manfaatnya bagi orang lain.

Ketika sudah berhasil menerbitkan buku, entah itu buku Tunggal ataupun buku Antologi tak dapat dipungkiri pasti ada kepuasan batin yang dirasakan penulisnya. Kepuasan yang tak bisa dinilai dengan materi, uang misalnya. Setidaknya ini yang saya rasakan. 

Setelahnya, biarkanlah Buku itu menemui takdirnya. Artinya, buku itu akan dibaca orang lain. Banyak tidaknya biarkan waktu yang membuktikan. Seterusnya pembaca itu mungkin ada yang suka dan ada pula yang tidak suka. Wajar kan itu, selera tiap orang berbeda. 

Jika kemudian diperjalanannya Buku kita belum atau kurang mendapat sambutan baik, jangan sedih apalagi sampai putus asa untuk tidak lain. Kita bisa belajar lagi dari buku tersebut, apa kekurangannya. Sebagai penulis yang mau terus belajar, ini malah bisa sebagai cambuk untuk memperbaiki Buku selanjutnya yang kita buat.

Dan, bila Buku kita banyak pembaca dan banyak yang suka berbahagialah. Artinya Buku kita telah menemui takdirnya yang baik. Jadikan ini sebagai motovasi dan penyemangat untuk karya selanjutnya. So, teruslah menulis dan berkaya. Biarkan Buku bertemu dengan takdirnya sendiri.

Whatinurani, 6 Januari 2021
#JanuariKumenulis 
#Hari Ke-6
#MenulisMeninggalkanJejak 
#CintaLierasi 

Aku Hujan ( Puisi )

Aku Hujan

Aku Hujan
Aku jatuhkan air melimpah ruah dipemukiman elite
Mereka dikasur menikmatiku
Berselimut tebal dan halus 
Sambil makan super lezat dan nonton you tube

Aku Hujan
Aku jatuhkan air melimpah ruah dipemukiman kumuh
Mereka menjerang air dikompor 
Mencari sedikit penghangat tubuh
Dan pengganjal perut
Untuk mengusir dinginku

Aku Hujan
Aku jatuhkan air melimpah ruah
Di lautan lepas dan angin ribut
Mereka membabi buta
Menyelamatkan kapal agar tak karam 
Tak peduli walau perut kelaparan
Dan tubuh menggigil kedinginan 
Demi menghalauku

Aku Hujan
Aku jatuhkan air melimpah ruah
Di padang gersang kering kerontang
Mereka bersukacita
Menyambutku dengan syukur tak terkira
Dan air mata bahagia

Aku Hujan 
Aku jatuhkan air melimpah ruah
Di gunung hutan yang tandus
Dan air bah menerjang 
Menyapu bersih apapun yang terlintas
Mereka menyebutku bencana dan musibah

Aku Hujan
Sedih dan gembira
Biarkan mereka yang rasa

Whatinurani, 5 Januari 2021

GAWAI ( Puisi )

G A W A I

Tak lepas tangan padanya
Pagi
Siang 
Malam

Rasa resah tak bersamanya
Dijalan
Dirumah
Dikantor

Terus ingin melihatnya
Saat makan
Saat duduk
Saat tidur 

Ada Gawai  
hilanglah resah
Saudara hilang 
Tak jadi masalah

Ada gawai 
Lenyaplah gelisah
Ada gawai
Semuanya berubah 

Whatinurani, 4 Januari 2020

Hujan Di Januari

Hujan di Januari

Kutuliskan satu kata
Dirinai hujan Januari
Saat mata menatap rintiknya
Saat jemari menggeggam dinginnya
Saat kata itu tak pernah mampu kusebut
Rindu

Kueja detik demi detik tetesan hujan di Januari
Ada seuntai harum 
Bermekar direlung hati
Menyusup pada hembusan nafas
Meninggalkan satu kata
Kenangan

Kusimak kiasan pesan 
Pada derainya
Pada tanda alam yang samar kubaca
Mencoba  memakna arti

Kubertafakur merenung diri
Mencoba menyelami
Arti hujan yang memberi 
Satu kata indah 
Kusebut itu
Cinta

Whatinurani, 3 Januari 2020

Sabtu, 02 Januari 2021

Jurus jitu cara pulang

Jurus jitu cara pulang

Terkadang mempunyai sifat pendiam itu tidak mengenakan. Seperti hari ini yang kualami. Kami berdua, aku dan bu Nina yang orangnya banyak bicara bersilaturahmi ke rumah teman yang beberapa hari lalu sembuh dari sakit. Sepanjang bertamu, bu Nina mendominasi pembicaraan. Yang dibicarakan banyak sekali oleh bu Nina. Mulai dari kegiatan di lingkungan tempatnya tinggal. Sampai pada bisnis dan kekayaan yang dimiliki.

Aku bukannya iri, tapi bosan saja mendengar cerita darinya yang sering diulang-ulang. Setiap lawan bicara menanggapi langsung dijawab panjang kali lebar sama bu Nina. Aku semakin tidak enak dengan tuan rumah, karena kita kan sedang bertamu. Aku kasih kode sama bu Nina untuk berpamitan. Eh, dianya pura-pura tidak tahu. Masih asyik saja menyambung pembicaraan. Disana kami sudah satu setengah jam lebih. Sampai sudah disuguhi makan besar juga. Aku semakin bosan mendengar pembicaraan bu Nina. Kulihat tuan rumah juga tidak enak hati. Mau menyuruhnya pulang jelas tidak beretika. Akhirnya aku punya inisiatif bagaimana agar bu Nina mau segera pulang.

"Kriggggggg,"terdengar  nada panggilan di gawaiku berbunyi. Segera saja kuangkat telpon itu. Sengaja ku stel mode on pada speakernya.
"Haloo bu, bisa segera kekantor, ada klien yang menunggu ibu. Katanya penting,"
"Baik pak, saya segera kesana,". Dan tanpa babibu lagi segera aku berpamitan pulang yang diikuti oleh bu Nina. Rupanya jurus jituku berhasil, WA temanku supaya pura-pura meneloponku untuk segera pulang. 

Whatinurani, 2 Januari 2020
(Sebuah Pentigraf)
#Hari Ke-2
#MenulisMeninggalkanJejak
#CintaLierasi 

Jumat, 01 Januari 2021

Selamat Datang 2021

#Hari Ke-1
#MenulisMeninggalkanJejak
#CintaLiterasi

Selamat Datang 2021

Malam Tahun baru 2021 berbeda dengan pergantian  tahun sebelumnya. Malam tadi nampak biasa-biasa saja. Bahkan nampak sepi. Rupanya sebagian orang sudah menyadari dan melaksanakan himbauan Pemerintah untuk merayakan Tahun Baru dirumah saja.

Demikian juga dengan saya. Boleh dikatakan keluarga kecil kami tak pernah merayakannya. Paling banter menonton Kembang Api di pusat kota. Itupun kalau cuaca sedang bersahabat. Kalau hujan, jangankan untuk keluar rumah, beranjak dari tempat tidur saja rasanya malas. Jadilah anjuran untuk bermalam tahun baru dirumah bukan menjadi sesuatu yang menyengsarakan bagi saya.

Tahun baru identik dengan Resolusi. Dan entah mengapa saya tidak pernah pasang target yang muluk-muluk. Prinsip saya, hari ini lebih baik dari kemarin. Jadi lakukan saja segala sesuatunya sebaik-baiknya. Semaksimal yang bisa dilakukan. 

Seperti halnya  dengan Menulis sampai cita-cita bisa memiliki buku, baik buku Tunggal maupun buku Antologi. Sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Alhamdulillah, tahun 2020 bisa menghasilkan satu karya buku Tunggal dan dua buku Antologi.

Hari ini memantapkan diri mulai lagi mengikuti Tantangan Menulis Gurusiana. Tidak ada yang terlambat bukan untuk memulai sesuatu yang diyakini kebenarannya. 

Berharap 2021 ini mempunyai karya yang lebih dibandingkan 2020. Semoga bisa Istiqomah, itu saja.

Whatinurani, 1 Januari 2021

Minggu, 12 Juli 2020

Kau datang


Kau Datang

Entah sudah berapa purnama kita tak bertemu. Dalam untaian rindu, diam saling menunggu. Tak ada setitik kabar, tiba-tiba kau datang mengetuk relung hatiku yang hampir membeku.

#Tatika
#Tagur Gurusiana Hari ke 1

Lembah Hijau, 10 Juli 2020
https://wigatihatinurani073421.gurusiana.id/article/2020/7/kau-datang-4463067

Catatan Bu Guru

Catatan Bu Guru Sudah lewat dua minggu Sekolah dengan PTM full seratus persen. Wajah-wajah ceria dan sumigrah di kelas nampak dari raut muka...