Jurus jitu cara pulang
Terkadang mempunyai sifat pendiam itu tidak mengenakan. Seperti hari ini yang kualami. Kami berdua, aku dan bu Nina yang orangnya banyak bicara bersilaturahmi ke rumah teman yang beberapa hari lalu sembuh dari sakit. Sepanjang bertamu, bu Nina mendominasi pembicaraan. Yang dibicarakan banyak sekali oleh bu Nina. Mulai dari kegiatan di lingkungan tempatnya tinggal. Sampai pada bisnis dan kekayaan yang dimiliki.
Aku bukannya iri, tapi bosan saja mendengar cerita darinya yang sering diulang-ulang. Setiap lawan bicara menanggapi langsung dijawab panjang kali lebar sama bu Nina. Aku semakin tidak enak dengan tuan rumah, karena kita kan sedang bertamu. Aku kasih kode sama bu Nina untuk berpamitan. Eh, dianya pura-pura tidak tahu. Masih asyik saja menyambung pembicaraan. Disana kami sudah satu setengah jam lebih. Sampai sudah disuguhi makan besar juga. Aku semakin bosan mendengar pembicaraan bu Nina. Kulihat tuan rumah juga tidak enak hati. Mau menyuruhnya pulang jelas tidak beretika. Akhirnya aku punya inisiatif bagaimana agar bu Nina mau segera pulang.
"Kriggggggg,"terdengar nada panggilan di gawaiku berbunyi. Segera saja kuangkat telpon itu. Sengaja ku stel mode on pada speakernya.
"Haloo bu, bisa segera kekantor, ada klien yang menunggu ibu. Katanya penting,"
"Baik pak, saya segera kesana,". Dan tanpa babibu lagi segera aku berpamitan pulang yang diikuti oleh bu Nina. Rupanya jurus jituku berhasil, WA temanku supaya pura-pura meneloponku untuk segera pulang.
Whatinurani, 2 Januari 2020
(Sebuah Pentigraf)
#Hari Ke-2
#MenulisMeninggalkanJejak
#CintaLierasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar