Minggu, 31 Januari 2021

Ladon Paradise

Ladon Paradise

Sebuah Taman yang berada di tengah sawah. Bernama Ladon Paradise. Memanfaatkan Pemandangan Alam yang sangat indah. Dengan Sungai Progo yang berada dibawahnya. Suasana sungguh asri, sejuk karena berada di tengah persawahan. Disekeliling taman pengunjung dimanjakan  aneka tanaman sayuran. Ada lombok, tomat, labu siam, kacang panjang, terong dan sebagainya. 
Ada juga beberapa petak kolam ikan dengan berbagai jenis Ikan air tawar, seperti gurami, nila, lele. Tak heran karena daerah sekitar Taman aliran air sangat melimpah dan jernih.

Ladon Paradise berlokasi di Paremono Mungkid Kabupaten Magelang. Masih sekitar Borobudur. Lebih tepatnya ke arah Jembatan Srowol. Belum lama dibuka untuk obyek wisata, namun sudah banyak yang berkunjung ditempat ini. Harga tiket yang sangat terjangkau yaitu Rp. 3000 serta dikenakan parkir Rp 2000 untuk sepeda motor dan Rp 5000 untuk kendaraan roda 4.

Akan terasa nyaman datang ke lokasi ini saat pagi atau sore hari bisa menikmati sunset.  Pukul 07.00 sudah dibuka. Jadi untuk menikmati sarapan, sambil melihat pemandangan, plus udara ysng sejuk sangat nyaman disini. Tak perlu membawa makanan, karena aneka minuman seperti teh, kopi dan penganan seperti pisang goreng, tempe, kentang goreng tersedia. Harganya murah pula.

Banyak spot foto yang indah di Lodon Paradise. Bangku-bangku kayu, gubug bambu untuk istirahat bahkan ada perahu kayu juga. Pokoknya dijamin suka, terutama yang hobby swafoto dan fotografi.

Jika datang sore hari, menikmati Sunset disini sangatlah nyaman. Ada bangku dan meja kayu menghadap ke Sungai yg ada dibawahnya dan juga perbukitan di seberang sungai. Bagi yang gemar ber swafoto disinilah tempatnya yang tepat. Tunggu apa lagi, datanglah kesini. Dan nikmati Lodon Paradise.

Whatinurani, 30 Januari 2021
#Hari Ke-30

Melewati Tantangan 30

 :Wigati Hati Nurani

Puji syukur kehadirat Allah SWT, sudah bisa menyelesaikan Tanta9ngan Menulis Gurusiana sampaj hari ke-30 pada 30 Januari 2021 kemarin. Ini remidi yang keberapa kali  saya tidak ingat pastinya. Mulai menulis di MGI khususnya di Blog Gurusiana sejak Maret 2020. Tetapi ya itu tadi, sering jatuh, lalu bangun. Jatuh dan bangun lagi. Pokoknya,  tidak ada kata terlambat untuk terus bangkit lagi. Untuk menulis.

Sebenarnya bagi saya pribadi, bisa menulis Tantangan itu merupakan anugrah. Artinya bisa menaklukkan diri sendiri. Belajar untuk istikomah. Dan itu harus dilatih setiap hari. Tidak bisa instan. Termasuk dalam menulis, membutuhkan konsistensi. Sebagai sarana berlatih diri untuk menghasilkan Tulisan yang baik. Karena menulis itu ketrampilan yang butuh latihan. Mungkin bakat juga, tetapi itu hanya menyumbang prosentase sedikit untuk mencapai keberhasilan. Selebihnya, ya memang harus belajar dan berlatih.

Semoga setelah ini, bisa terus menulis. Melanjutkan menuju Tantangan ke-60. Itu dulu rencana kedepan. Tidak berharap yang muluk-muluk. Sambil terus menularkar semangat menulis kepada orang lain. Terutama kepada siswa, lebih tepatnya siswa dikelas sendiri. Karena kalau mau menumbuhkan semangat menulis di Sekolah agak sulit juga. Tidak semua guru gemar menulis. Dan tidak sedikit yang memandang dengan remeh orang yang gemar menulis. Itu kalau mau jujur, dan faktanya di lapangan.

Dengan niat untuk membudayakan Literasi bagi diri sendiri dan Siswa. Khususnya Literasi Baca dan Tulis,  Insyaa Allah Tantangan Menulis Gurusiana akan terus saya ikuti. Mohon doa dan masukanya ya.

*****
Whatinurani, 31 Januari 2021
#Hari Ke-31

Minggu, 17 Januari 2021

Senja Terkurung Hujan

( Puisi) 

Senjaku tak jadi datang
Hujan menderas tak kenal lelah
Tak berhenti walau sekejap
Menggulung awan melibas kenangan 
///
Senjaku jauh diatas cakrawala
Mengintip dari balik rintik hujan
Sendu berpeluh duka
Maafkan aku tak datang kawan 
///
Bertemanlah dengan selimut
Nikmati hari berkabut
Biarkan senja tergulung hujan
Berarak datang menepis resah
///
Hujan menemani sepanjang petang 
Mengganti Senja pulang ke peraduan
Adukan saja segala gelisah
Biarkan lenyap ditelan malam
///

Whatinurani, 17 Januari 2021
#Hari Ke-17

Selasa, 12 Januari 2021

Soto Kudus Tempuran

Soto Kudus Tempuran

Entah ini kedatangan kami yang keberapa kali di Rumah Makan ini. Mungkin lebih dari duapuluh  kali. Apalagi sejak masa pandemi Covid. Biasanya kami datang sekitar jam 8 setiap hari Sabtu di Rumah Makan ini. Ya, saya dan suami pelanggan setianya.

Rumah Makan buka jam 7 pagi. Waktunya pas untuk sarapan. Menu yang dipesen suami selalu Soto Ayam dan Teh manis. Dan karena saya jarang sarapan, menu yang saya pesen cukup secangkir Kopi Hitam tanpa gula. Mbak Pelayan sampai hafal setiap kami datang. Dengan senyum manisnya selalu siap mencatat pesanan tanpa dikomando. 

Begitulah, dari sekian Warung Soto yang pernah kami datangi Soto disini ter the best lah dari segi rasa dan harga. Enak dan ramah dikantong. Tempatnya juga lumayan luas, dengan halaman parkirnya. Bersih dan disamping Rumah Makan terdapat Mushola yang cukup besar.

 Soto yang disajikan disemangkuk kecil itu cukup kenyang untuk mengganjal perut di pagi hari. Kuahnya kental dengan taburan bawang putih yg banyak. Aneka lauk juga disajikan komplit untuk menemani makan Soto. Ada Sate Paru, Sate telor puyuh, perkedel, tempe goreng, goreng otak sapi dan juga krupuk. Selain Soto, disini juga menyediakan Menu Nasi Pindang Daging, Nasi Ayam Komplit dengan lalapan . Yang tak kalah enak menurutku Kopi Hitamnya. Kopi Kelir yang diambil dari dusun setempat. Kental dan aroma yang semerbak wangi begitu terhidang dimeja. 
  
Sedikit yang agak merepotkan mungkin letak Rumah Makan yang berada ditikungan jalan Tempuran Ambarawa Magelang. Terutama kalau dari arah Utara. Tetapi kalau sudah terbiasa, tidak masalah juga.

Yuk mari menikmati Soto Kudus Tempuran. Jangan lupa bungkus untuk yang menunggu di rumah ya. Kalau sampai di rumah dingin, tinggal dihangatkan saja. 

#Hari Ke-9


Whatinurani, 9 Januari 2021

Selamat Jalan

Saya memang tak mengenalmu di dunia nyata. Bertemupun belum pernah. Tetapi serasa sudah mengenal begitu dekat.  Walaupun hanya lewat tulisan yang diposting lewat Sosial Media, khususnya lewat Face Book. 

Maka ketika pagi hari selepas sholat subuh tak sengaja membuka laman grup itu, kaget tak terkira. Membaca postingan salah satu anggota grup, mengabarkan Engkau telah berpulang.

Setelahnya grup menjadi ramai. Ucapan berduka cita dari mana saja. Semua mendoakan yang terbaik. Kalau bukan karena kebaikan yang kau tebar. Kalau bukan karena manfaat yang dirasakan atas pertemanan. Atas postingan dan tulisan yang bermanfaat, mustahil itu semua mereka sampaikan dengan ucapan yang tulus.

Selamat jalan Pak Ali Foedin. Selamat bertemu dengan Rabb-Mu, Allah SWT. Insya Allah wafatmu husnul khotimah, pahala tetap mengalir atas amal baik selama ini yang telah engkau kerjakan di dunia. Diampuni segala kesalahan dan dosa-dosamu. Keluarga yang ditinggalkan, istri dan anak-anakmu tetap kuat dan ikhlas menerima kepergianmu.

Aku memang tidak mengenalmu, tetapi ijinkan aku berdoa untukmu. Terimakasih atas segala ilmu dan postingan lewat tulisanmu yang bermanfaat. Salah satu ihktiar dengan pola hidup sehat. Semoga semua menjadi amal jariyah yang tak terputus.

Whatinurani, 12 Januari 2021
#Hari Ke-12

Selasa, 05 Januari 2021

Buku Dan Takdirnya

Buku Dan Takdirnya

Jikalau ada ungkapan, tugas penulis hanya menulis saja itu tidak salah. Apalagi yang masih dalam tahapan belajar. Menulis apapun genrenya. Pada saat mendapat ide, segera tuangkan. Entah dalam bentuk puisi, kolom, cerpen tiga paragraf atau apapun. Saatnya nanti bila sudah mencukupi bisa dijadikan buku.

Dalam benak mungkin berpikir, terus ķalau sudah jadi buku mau diapakan buku kita. Apalagi yang berorentasi ke profit. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu dalam. Pasti banyak manfaatnya. Setidaknya untuk pribadi, syukur-syukur bisa dibaca, dinikmati dan diambil manfaatnya bagi orang lain.

Ketika sudah berhasil menerbitkan buku, entah itu buku Tunggal ataupun buku Antologi tak dapat dipungkiri pasti ada kepuasan batin yang dirasakan penulisnya. Kepuasan yang tak bisa dinilai dengan materi, uang misalnya. Setidaknya ini yang saya rasakan. 

Setelahnya, biarkanlah Buku itu menemui takdirnya. Artinya, buku itu akan dibaca orang lain. Banyak tidaknya biarkan waktu yang membuktikan. Seterusnya pembaca itu mungkin ada yang suka dan ada pula yang tidak suka. Wajar kan itu, selera tiap orang berbeda. 

Jika kemudian diperjalanannya Buku kita belum atau kurang mendapat sambutan baik, jangan sedih apalagi sampai putus asa untuk tidak lain. Kita bisa belajar lagi dari buku tersebut, apa kekurangannya. Sebagai penulis yang mau terus belajar, ini malah bisa sebagai cambuk untuk memperbaiki Buku selanjutnya yang kita buat.

Dan, bila Buku kita banyak pembaca dan banyak yang suka berbahagialah. Artinya Buku kita telah menemui takdirnya yang baik. Jadikan ini sebagai motovasi dan penyemangat untuk karya selanjutnya. So, teruslah menulis dan berkaya. Biarkan Buku bertemu dengan takdirnya sendiri.

Whatinurani, 6 Januari 2021
#JanuariKumenulis 
#Hari Ke-6
#MenulisMeninggalkanJejak 
#CintaLierasi 

Aku Hujan ( Puisi )

Aku Hujan

Aku Hujan
Aku jatuhkan air melimpah ruah dipemukiman elite
Mereka dikasur menikmatiku
Berselimut tebal dan halus 
Sambil makan super lezat dan nonton you tube

Aku Hujan
Aku jatuhkan air melimpah ruah dipemukiman kumuh
Mereka menjerang air dikompor 
Mencari sedikit penghangat tubuh
Dan pengganjal perut
Untuk mengusir dinginku

Aku Hujan
Aku jatuhkan air melimpah ruah
Di lautan lepas dan angin ribut
Mereka membabi buta
Menyelamatkan kapal agar tak karam 
Tak peduli walau perut kelaparan
Dan tubuh menggigil kedinginan 
Demi menghalauku

Aku Hujan
Aku jatuhkan air melimpah ruah
Di padang gersang kering kerontang
Mereka bersukacita
Menyambutku dengan syukur tak terkira
Dan air mata bahagia

Aku Hujan 
Aku jatuhkan air melimpah ruah
Di gunung hutan yang tandus
Dan air bah menerjang 
Menyapu bersih apapun yang terlintas
Mereka menyebutku bencana dan musibah

Aku Hujan
Sedih dan gembira
Biarkan mereka yang rasa

Whatinurani, 5 Januari 2021

GAWAI ( Puisi )

G A W A I

Tak lepas tangan padanya
Pagi
Siang 
Malam

Rasa resah tak bersamanya
Dijalan
Dirumah
Dikantor

Terus ingin melihatnya
Saat makan
Saat duduk
Saat tidur 

Ada Gawai  
hilanglah resah
Saudara hilang 
Tak jadi masalah

Ada gawai 
Lenyaplah gelisah
Ada gawai
Semuanya berubah 

Whatinurani, 4 Januari 2020

Hujan Di Januari

Hujan di Januari

Kutuliskan satu kata
Dirinai hujan Januari
Saat mata menatap rintiknya
Saat jemari menggeggam dinginnya
Saat kata itu tak pernah mampu kusebut
Rindu

Kueja detik demi detik tetesan hujan di Januari
Ada seuntai harum 
Bermekar direlung hati
Menyusup pada hembusan nafas
Meninggalkan satu kata
Kenangan

Kusimak kiasan pesan 
Pada derainya
Pada tanda alam yang samar kubaca
Mencoba  memakna arti

Kubertafakur merenung diri
Mencoba menyelami
Arti hujan yang memberi 
Satu kata indah 
Kusebut itu
Cinta

Whatinurani, 3 Januari 2020

Sabtu, 02 Januari 2021

Jurus jitu cara pulang

Jurus jitu cara pulang

Terkadang mempunyai sifat pendiam itu tidak mengenakan. Seperti hari ini yang kualami. Kami berdua, aku dan bu Nina yang orangnya banyak bicara bersilaturahmi ke rumah teman yang beberapa hari lalu sembuh dari sakit. Sepanjang bertamu, bu Nina mendominasi pembicaraan. Yang dibicarakan banyak sekali oleh bu Nina. Mulai dari kegiatan di lingkungan tempatnya tinggal. Sampai pada bisnis dan kekayaan yang dimiliki.

Aku bukannya iri, tapi bosan saja mendengar cerita darinya yang sering diulang-ulang. Setiap lawan bicara menanggapi langsung dijawab panjang kali lebar sama bu Nina. Aku semakin tidak enak dengan tuan rumah, karena kita kan sedang bertamu. Aku kasih kode sama bu Nina untuk berpamitan. Eh, dianya pura-pura tidak tahu. Masih asyik saja menyambung pembicaraan. Disana kami sudah satu setengah jam lebih. Sampai sudah disuguhi makan besar juga. Aku semakin bosan mendengar pembicaraan bu Nina. Kulihat tuan rumah juga tidak enak hati. Mau menyuruhnya pulang jelas tidak beretika. Akhirnya aku punya inisiatif bagaimana agar bu Nina mau segera pulang.

"Kriggggggg,"terdengar  nada panggilan di gawaiku berbunyi. Segera saja kuangkat telpon itu. Sengaja ku stel mode on pada speakernya.
"Haloo bu, bisa segera kekantor, ada klien yang menunggu ibu. Katanya penting,"
"Baik pak, saya segera kesana,". Dan tanpa babibu lagi segera aku berpamitan pulang yang diikuti oleh bu Nina. Rupanya jurus jituku berhasil, WA temanku supaya pura-pura meneloponku untuk segera pulang. 

Whatinurani, 2 Januari 2020
(Sebuah Pentigraf)
#Hari Ke-2
#MenulisMeninggalkanJejak
#CintaLierasi 

Jumat, 01 Januari 2021

Selamat Datang 2021

#Hari Ke-1
#MenulisMeninggalkanJejak
#CintaLiterasi

Selamat Datang 2021

Malam Tahun baru 2021 berbeda dengan pergantian  tahun sebelumnya. Malam tadi nampak biasa-biasa saja. Bahkan nampak sepi. Rupanya sebagian orang sudah menyadari dan melaksanakan himbauan Pemerintah untuk merayakan Tahun Baru dirumah saja.

Demikian juga dengan saya. Boleh dikatakan keluarga kecil kami tak pernah merayakannya. Paling banter menonton Kembang Api di pusat kota. Itupun kalau cuaca sedang bersahabat. Kalau hujan, jangankan untuk keluar rumah, beranjak dari tempat tidur saja rasanya malas. Jadilah anjuran untuk bermalam tahun baru dirumah bukan menjadi sesuatu yang menyengsarakan bagi saya.

Tahun baru identik dengan Resolusi. Dan entah mengapa saya tidak pernah pasang target yang muluk-muluk. Prinsip saya, hari ini lebih baik dari kemarin. Jadi lakukan saja segala sesuatunya sebaik-baiknya. Semaksimal yang bisa dilakukan. 

Seperti halnya  dengan Menulis sampai cita-cita bisa memiliki buku, baik buku Tunggal maupun buku Antologi. Sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Alhamdulillah, tahun 2020 bisa menghasilkan satu karya buku Tunggal dan dua buku Antologi.

Hari ini memantapkan diri mulai lagi mengikuti Tantangan Menulis Gurusiana. Tidak ada yang terlambat bukan untuk memulai sesuatu yang diyakini kebenarannya. 

Berharap 2021 ini mempunyai karya yang lebih dibandingkan 2020. Semoga bisa Istiqomah, itu saja.

Whatinurani, 1 Januari 2021

Catatan Bu Guru

Catatan Bu Guru Sudah lewat dua minggu Sekolah dengan PTM full seratus persen. Wajah-wajah ceria dan sumigrah di kelas nampak dari raut muka...