Catatan Bu Guru
Sudah lewat dua minggu Sekolah dengan PTM full seratus persen. Wajah-wajah ceria dan sumigrah di kelas nampak dari raut muka para siswa. Sekolah dengan jadwal yang padat merayap dari jam 7 hingga jam 4 mungkin lebih. Tak menyurutkan antusias siswa untuk belajar di sekolah. Tentu saja yang bersungguh-sungguh ingin sekolah. Karena ada juga lho siswa yang sudah ijin entah karena keperluan atau sakit atau bahkan tak ijin alias alpha.
Kalau dipikir alasannya karena sakit, tanpa diminta sudah menyertakan surat ijin dari orang tua. Atau surat dari dokter puskesmas, klinik dan pelayanan kesehatan lainnya. Tapi ada juga lo yang dengan santainya tanpa berkabar kepada sekolah ketika tak masuk. Bahkan beberapa waktu lalu, orang tua ada yang telepon ke Walikelas karena anaknya sudah 4 hari tidak pulang ke rumah setelah pamit berangkat sekolah. Duuhhh...
Diakui atau tidak, pandemi Covid yang hampir dua tahun lamanya telah menggeser kebiasaan hampir segala bidang kehidupan. Termasuk juga di bidang pendidikan. Dalam hal ini kebiasaan siswa. Bisa jadi gurupun juga begitu. Terkena dampaknya.
Para siswa harus dibangunkan dari tidur panjangnya. Tidur karena kondisi pandemi yang merubah dari kebiasaan sehari-hari. Biasanya bangun tidur tidak dikejar waktu. Sekolah tidak mandi pun bisa, sambil rebahan di kamar rumahnya. Nah sekarang, pagi-pagi harus bersiap untuk aktifitas sekolah seharian. Kebiasaan lama yang sempat ditinggalkan harus mulai dilakukan lagi. Dan itu butuh waktu juga untuk pembiasaan. Butuh proses lagi.
So, bapak ibu guru harus lebih sabar ya, membangkitkan kebiasaan ini lagi. Melihat presensi terisi penuh, itu sudah bersyukur. Melihat siswa lambat, tidak sat set saat proses pembelajaran juga harus bersabar. Melihat siswa hanya seperti mematung, diam seribu bahasa. Ditanya diam tidak ditanya apa lagi. Duuhhh.
Memasang target terlalu tinggi untuk siswa. Itu ideal sih menurut saya, tetapi realita jangan dilupakan. Ibaratnya nih, baru terbangun dari tidur panjangnya, ya harus pelan-pelan mengajak berjalan. Tidak usah diajak berlari. Nanti malah jatuh, jadi berabe kan.
Begitupun memulai proses pembelajaran, dimasa setelah siswa dalam waktu lama tidak pertemuan tatap muka di kelas. Tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para guru untuk menumbuhkan kembali kebiasaan-kebiasaan yang telah lama ditinggalkan. Misalnya ketika memulai pelajaran, guru menyapa dengan mengucapkan salam. Assallamuaikum atau Selamat pagi. Siswa masih terkaget kaget, ternyata ada yang menyapa. Selama ini di rumah tidak ada orang tua yang menyapa atau siswa sendiri tidak memulai untuk menyapa. Ini contoh kecil saja, bagian untuk membentuk karakter siswa. Tetapi memang butuh pembiasaan yang terus menerus.
Pembentukan karakter yang lain juga perlu pembiasaan. Ketika proses pembelajaran berlangsung, bagaimana siswa mendengarkan, menyimak, bertanya kepada guru dan sikap berinteraksi sesama teman. Jangan salah ya, meskipun sudah sekolah hingga setingkat SMK yang artinya sudah sekolah lebih dari 9 tahun, menumbuhkan dan membentuk karakter harus terus dilakukan. Untuk itu perlu pembiasaan yang terus menerus. Semoga akan terbentuk insan pelajar dengan karakter yang baik dan kuat dan menjujungnya hingga sampai mereka nanti lulus dari Sekolah.
Selesai.
( Menumbuhkan Kebiasaan Sekolah setelah Pandemj Covid)
Sejuta Bunga, 31.07.2022