Kamis, 25 Maret 2021

Harapan Vs Kenyataan

Harapan Vs Kenyataan 
Dulu sekali, ketika masih usia sekolah sering gak sih ditanya cita-cita. Pasti pernah ya. Mungkin sejak kecil, orang tua, guru bertanya seperti itu. Lalu aku jawab ini, itu cita-citanya. Banyak sekali yang disebutkan.  Sampai akhirnya takdir mempertemukan dengan kondisi yang sekarang.

Cita-cita tak lepas dengan harapan individu. Dan tidak ada seorangpun yang mempunyai harapan yang tidak baik. Misalnya, cita-cita pekerjaan. Pasti menginginkan pekerjaan dengan penghasilan yang besar, agar hidupnya mapan. Cita-cita tentang pasangan. Juga harapannya agar mendapat pasangan yang cantik, atau ganteng, saling mencintai, saling sayang, sabar, ngemong dan sederet harapan yang baik-baik. Demikian juga harapan lain yang berhubungan dengan kehidupannya. Menginginkan yang sempurna. Wajar tidak ya. Tentu saja wajar sekali sebagai manusia yang normal.

Seiring berjalannya waktu, eh tahu-tahu sudah 50 tahun umurku. Sudah tua ternyata. Lalu kemana cita-cita yang dahulu. Yang mengjnginkan serba sempurna. Kalau kenyataan yang dihadapi sekarang tidak sesuai harapan. Tidak sesuai ekspetasi istilahnya. Tetapi toh, aku masih hidup, dan masih diberi nikmat sehat oleh Allah. Jadi ya, cita-cita dan harapan yang ideal itu tinggal kenangan. Sekarang yang terpenting menjalani hidup yang sungguh indah ini.

Cita-cita terbesar saat ini adalah Kesehatan. Baik sehat jasmani maupun rohani.  Karena dengan tubuh yang sehat bisa melakukan aktivitas yang diinginkan. Masih bisa ke sekolah, mengajar kalau yang berprofesi guru sepertiku. Bisa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain diusia senja itu sungguh membahagiakan. Demikian juga dengan sehat rohani yang masih dirasakan. Bukankah ini cita-cita yang sesungguhnya.

Jadi sekarang bukan saatnya berharap yang terlalu tinggi. Sudah ada generasi dibawah kita bukan. Biarkan mereka yang mengambil peran. Kita generasi usia 50-an memberi arahan saja. Kita juga bekerja sesuai kemampuan. Kalau sekarang dituntut pemanfaatan Informasi Tekhnologi yang tinggi, ya belajar  mengikuti. Tidak usah ngoyo terlalu dipikirkan. 

Saatnya menghadapi kenyataan sehari-hari. Dengan segala kemampuan yang dimiliki. Semoga tetap bisa berkarya dan bermanfaat bagi orang lain. 

#Dalam Catatan Menjemput Senja

Kota Sejuta Bunga, 26 Maret 2021

Rabu, 24 Maret 2021

Jatuh Lagi Remidi Lagi

Jatuh Lagi Remidi Lagi
#Tagur Hari Ke-1

Hari Selasa, 23 Maret 2021 semestinya Tantangan Gurusiana saya memasuki hari ke-83. Tetapi ternyata saya lupa. Benar-benar lupa. Baru ingat setelah jam 03.00, keesokan harinya. Subhanallah, kenapa saya bisa kelupaan. Padahal tulisan sudah ada, tetapi belum saya upload. 

Ini menjadi pengingat bagi saya. Untuk lebih disiplin dalam menulis dan langsung menanyangkannya. Harus menyediakan waktu khusus, sehingga tidak tertinggal lagi dalam penayangan. Sebisa mungkin waktunya pagi sampai siang saja. Karena batas penayangan di gurusiana jam 23.59. Semoga dengan niat ini tidak terlewatkan lagi saat menayangkan tulisan.

Setelah sehari berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk menulis dan mengikuti Tantangan lagi. Sebelumnya saya tetap membaca berbagai Tulisan teman-teman gurusianer. Mencoba mencari teman yang sudah jatuh dari tangga yang lumayan tinggi, tetapi tetap semangat lagi untuk menulis.

Ini mungkin remidi saya yang ke-5 kali. Sedih pastinya, karena tulisan sudah sampai hari ke-82. Tetapi entah mengapa saya tetap menulis. Dan saya akan tetap mengikuti Tantangan Menulis Gurusiana setiap hari. Meskipun dimulai lagi hari ke-1. Bagi saya, tak masalah. Karena, memang menulis sekarang ini sudah menjadi habit, kebiasaan. Rasanya ada yang kurang jika belum menulis.

Saya juga mempunyai pedoman, menulis setiap hari itu sarana berlatih ketrampilan. Dan tulisan yang tersimpan di Blog ini bisa sebagai tabungan. Saatnya nanti diperlukan, bisa diambil lagi untuk dijadikan buku. Bisa buku Antologi ataupun buku Tunggal. Semoga kelak bisa membuat buku Tunggal lagi. 

Kota Sejuta Bunga, 25 Maret 2021

Catatan Bu Guru

Catatan Bu Guru Sudah lewat dua minggu Sekolah dengan PTM full seratus persen. Wajah-wajah ceria dan sumigrah di kelas nampak dari raut muka...